ILMU GIZI



ILMU GIZI








   
Di Susun Oleh :

NUR FAUZA ALIFIA UMAR
(NH0117101)









BAB I
IMT (INDEKS MASSA TUBUH)

A.    Indeks Massa Tubuh
IMT dihitung dengan pembagian berat badan (dalam kg) oleh tinggi badan (dalam m) pangkat dua. Kini IMT banyak di gunakan di rumah sakit untuk mengukur status gizi pasien karena IMT dapat memperkirakan ukuran lemak tubuh yang sekalipun hanya estimasi tetapi lebih akurat daripada pengukuran berat badan saja. Disamping itu, pengukuran IMT lebih banyak dilakukan saat ini karena orang yang kelebihan berat atau yang gemuk lebih beresiko untuk menderita penyakit diabetes, penyakit jantung, stroke, hipertensi, osteoatritis, dan beberapa bentuk penyakit kanker. Namun, The National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases mengingatkan bahwa orang yang berotot dan bertulang besar dapat memiliki IMT yang tinggi tetapi sehat. Begitu pula, orang berusia lanjut, orang dengan massa otot yang rendah dan pasien malnutrisi bisa memiliki IMT yang normal tetapi tidak tepat.
Indeks massa tubuh (body mass index) :
IMT =

Nilai standar (bagi Kaukasian) :
            <20                  berat kurang (underweight)
            20-25               berat normal (normal weight)
            25-30               berat lebih (overweight)
            >30                  obese/gemuk
Nilai standar (yang di usulkan bagi orang Asia, 2000)
            <18,5               berat kurang
            18,5-22,9         berat normal
            >23                  proebese
            23-24,9            obese  ringan
            25-29,9            obese sedang
            ≥30                  obese berat
Selain pengukuran dengan cara diatas, IMT juga bisa ditentukan dengan nomogram dan peta IMT.

Contoh penghitungan IMT :
            Seorang pasien memiliki berat badan 60 kg dan tinggi 165 cm (1,65 m). Berapa indeks massa tubuhnya dan bagaimana status gizinya?
                                  IMT =   =  = 22,2
              Pasien dengan IMT 22,2 tergolong ke dalam status gizi normal.


















BAB II
ZAT GIZI MAKRO DAN MIKRO

A.    Zat Gizi Makro
Salah satu komponen zat gizi yang di peroleh dari asupan makanan adalah zat gizi makro selain zat gizi makro. Zat gizi makro merupakan zat gizi yang dibutuhkan dalam jumlah besar oleh tubuh. Zat gizi makro secara garis besar dibedakan menjadi 3 macam yaitu karbohidrat, protein dan lemak.
Kelompok zat gizi makro merupakan sumber utama pengahisalan energi bagi tubuh. Berdasarkan Widya Karya Nasional Panggan dan Gizi VIII (WNPG VIII) tahun 2004 secara umum pola pangan yang baik adalah bila perbandingan komposisi energi bersumber dari asupan karbohidrat, protein dan lemak adalah sebesar 50-65% : 10-20% : 20-30% secara berturut-turut dari kebutuhan energi total.
Kebutuhan energi total bagi lansia di indonesia menurut WNPG VIII berdasarkan jenis kelamin dan umur adalah bagi laki-laki berumur 60-64 tahun sebesar 2.250 kalori dan berumur e” 65 tahun sebesar 2.050 kalori. Sedangkan, bagi perempuan berumur 60-64 tahun sebesar 1.750 kalori dan berumur e” 65 tahun sebesar 1.600 kalori. Komposisi ini tentu dapat bervariasi pada masing-masing individu sesuai dengan umur, ukuran tubuh, keadaan fisiologis, dan mutu protein makanan yang di konsumsi.

a.      Asupan Karbohidrat
Karbohidrat terdiri dari karbohidrat sederhana dan karbohidrat kompleks. Jenis monosakarida dan disakarida digolongkan kedalam karbohidrat sederhana, sedangkan poli sakarida seperti glikogen, starch dan serat digolongkan kedalam karbohidrat kompleks. Karbohidrat sederhana atau disebut juga dengan gula sederhana mudah dicerna untuk menghasilakn energi yang dapat langsung dipergunakan oleh tubuh. Sedangkan karbohidrat komplek seperti glikogen dan starch merupakan cadangan energi yang mudah di cerna ketika diperlukan sewaktu-waktu oleh tubuh. Karbohidrat komplek berperan dalam mengendalikan kadar gula darah tubuh.



Fungsi utama karbohidrat adalah menyediakan energi bagi sel-sel tubuh, terutama sel-sel tubuh, terutama sel-sel otak dan sistem saraf pusat yang membutuhkan asupan glukosa darah. Setiap 1 (satu) gram karbohidrat menyediakan energi sebesar 4 kalori. Selain itu karbohidrat juga berperan dalam fungsi jaringan tubuh, membantu regulasi metanolisme protein, mempengaruhi metabolisme lemak, dan glikogen merupakan cadangan energi yang berguna untuk melindungi sel-sel, terutama sel-sel otak dari tekanan fungsi metabolisme dan cidera.

b.      Asupan Lemak
Lemak merupakan gizi makro kedua yang menghasilkan energi setelah karbohidrat. Komponen dasar lemak adalah asam lemak dan trigliserida. Asam lemak berdasarkan ikatan rangkap dibedakan menjadi asam lemak jenuh atau saturated fatty acid (SFA) yaitu asam lemak yang tidak memiliki ikatan rangkap dan asam lemak tidak jenuh atau unsaturated fatty acid (UFA) yaitu asam lemak yang memiliki ikatan rangkap . UFA dibedakan menjadi mono unsaturated fatty acid (MUFA) yaitu memiliki 1 (satu) ikatan rangkap dan polly unsaturated fatty acid (PUFA) yaitu memiliki 2 (dua) atau lebih ikatan rankap. Sedangkan trigselarida dibentuk menjadi 3 asam lemak dan satu gliserol. Trigliserida merupakan cadangan asam lemak yang terdapat dalam tubuh.
Lemak mempunyai beberapa fungsi khusus bagi tubuh. Lemak yang berasal dari makanan berfungsi untuk absorbsi vitain larut lemak, menyediakan asam lemak esendial dan menyediakan energi bagi tubuh. Energi yang diperoleh dari lemak makanan sebesar 9 kalori setiap 1 (satu) gram lemak. Disamping lemak yang berasal dari makanan, lemak yang terdapat dalam tubuh manusia juga memiliki fungsi sebagai alat pelindungan organ-organ tubuh yang penting, menjaga suhu tubuh, transmisi implus-implus saraf, struktur membran sel dan prekursor fungsi metabolisme.





c.       Asupan Protein
Protein dibentuk dari asam-asam maino yang bergabung menjadi beberapa rantai peptida. Dari 20 asam amino yang membentuk protein, 9 diantaranya tidak dapat disintesis oelh tubuh dan harus diperoleh dari asupan makanan atau dikenal dengan asam amino esensial. Asam amino esensial meliputi histidine, isoleucine, leucine, lysine, methionine, phenylalanine, theronine, trypthophan,dan valine. Beberapa jenis protein diantaranya yaitu myosin, kolagen, hemoglobin, albumin dan bentuk protein lainnya dengan fungsi khusus. Myosin merupakan protein otot yang berperan pada saat kontraksi otot, kolagen berperan dalam memperkuat jaringan tulang, tulang rawan dan kulit untuk memperthankan bentuk tubuh. Hemoglobin berperan dalam menganggkut oksigen keseluruh tubuh dan albumin merupakan plasma protein yang berperan dalam menjaga keseimbangan tubuh.
Fungsi utama protein bagi tubuh adalah untuk membantu dan mempertahankan jaringan tubuh, menghasilakn neurotransminator  bagi otak dan fungsi saraf, hormon, mempertahankan fungsi imunitas tubuh, mempertahankan keseimbangan cairan dan sebagai sumber energi. 1 (satu) gram protein menghasilak energi sebesar 4 kalori.  

B.     Zat Gizi Mikro

a.      Definisi Zat Gizi Mikro
Definisi zat gizi mikro adalah vitamin dan mineral. Walaupun vitamin diperlukan tubuh dalam jumlah kecil namun mempunyai peranan yang penting. Vitamin adalah zat esensial yang diperukan untuk membantu kelancaran penyerapan zat gizi dan proses metabolisme tubuh. Begitu pula dengan mineral, dalam jumlah kecil beberapa mineral dibutuhkan tubuh untuk menjaga agar organ tubuh berfungsi secara normal. Beberapa mineral juga berfungsi sebagai ko-enzim dan antioksidan. Peran vitamin dan mineral sebagai antioksidan inilah yang membuat vitamin dan mineral mampu memperkuat sistem daya tahan tubuh manusia (sistem imun).
Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis peran beberapa zat gizi mikro terhadap sistem daya tahan tubuh melalui review pada beberapa buku teks dan hasil penelitian dalam dan luar negeri. Zat gizi mikro yang dimaksud adalah vitamin A, vitamin E, vitamin C, Selenium, Zinc dan Besi peranannya dalam sistem imun manusia.
b.      Zat Gizi Mikro
Seperti disebutkan di depan bahwa zat gizi mikro meliputi vitamin dan mineral. Vitamin adalah komponen organik yang di perlukan dalam jumlah kecil, namun sangat penting untuk reaksi-reaksi metabolik di dalam sel, serta diperlukan untuk pertumbuhan normal dan pemeliharaan kesehatan. Beberapa vitamin berfungsi sebagai koenzim yang bertanggung jawab terhadap berlangsungnya reaksi-reaksi kimia yang esensial. Sebagian besar koenzim terdapat dalam bentuk apoenzim, yaitu vitamin yang terkait dengan protein.
Mineral terutama mineral mikro terdapat dalam jumlah sangat kecil didalam tubuh, namun mempunyai peranan penting untuk kehidupan, dan kesehatan. Salah satu peranan penting dari vitamin dan mineral tersebut yaitu dalam mempertahankan sistem kekebalan tubuh yang sehat.
Perlu diketahui bahwa sebagian besar vitamin dan selutuh mineral tidak dapat disentasa oleh tubuh sehingga harus diperoleh dari makanan terutama buah, sayur dan pangan hewani. Untuk memenuhi kebutuhan vitamin dan minerl ini maka diperlukan konsumsi makanan yang seimbang dan beragam. Dalam kenyataanya pada kondisi tertentu tidak semua vitamin dan mineral yang berasal dari makanan dapat di konsumsi untuk memenuhi kebutuhan, maka pada kondisi eperti ini dapat dipenuhi dengan konsumsi suplementasi vitamin dan mineral. Kelompok dengan kondisi diatas disebut juga kelompok rawan meliputi kelompok lansia, anak-anak, kelompok individu dengan kondisi sosial ekonomi rendah, pengungsi, penduduk dalam kondisi darirat dan wanita usia subur (WUS) Kelompok lain yang memerlukan tambahan vitamin dan mineral adalah perokok, orang yang terpapar stres oksidatif, terpapar polusi, pengonsumsi alkohol berat, terkena penyakit infeksi, ibu hamil dan menyusui.
Selain membantu proses metabolisme zat gizi, vitamin dan mineral juga dapat sebagai antioksidan yang sangat memengaruhi kualitas hidup manusia. Antioksidan adalah zat yang secara signifikan dapat menurunkan efek negatif akibat spesies yang reaktif seperti oksigen reaktif dan nitrogen reaktif yang terbentul dalam tubuh. Beberapa vitamin dan mineral yang mempunyai peran sebagai antioksidan, diantaranya adalah vitamin A, vitamin E, vitamin C, selenium, zat besi dan zinc.


BAB III
ANGKA KECUKUPAN GIZI YANG DIBUTUHKAN

A.    Kurang Gizi
Secara umum pokok persoalan ini berkaitan dengan kecepatan berat yang hilang. Kecepatan (=rate) berat yang hilang adalah proporsional dengan energi yang hilang. Kecepatan hilan/terlepasnya berat lebih cepat daripada yang diberikan oleh energi yang berasal dari makanan di bawah kebutuhan hidup pokok. Penelitian menunjukkan bahwa penurunan berat tubuh melibatkan hilangnya Lean Body Mass dan fat. Kontribusi masing-masing komponen pada jumlah total yang hilanh tergantung pada dua faktor berikut.
a.       Faktor awal adalah berat kandungan lemak dan besarnya energi yang berkurang. Sebagai contoh, pada keadaaan kurus seseorang, maka akan terjadi pengurangan jumlah lemak dengan kecepatan 2 kali lebih besar daripada jumlah nitrogen per kilogram berat yang hilang. Demikian juga yang terjadi pada orang yang kegemukan, dengan catatan bahwa orang menjadi cepat kurus bila diet yang dikonsumsi memiliki energi sebesar 1400 – 1900 kkal yang lebih besat daripada besar relatif LBM yang hilang per unit berat yang hilang dibanding yang terjadi pada individu obese.
b.      Faktor kedua adalah keseimbangan penting untuk semua kategori kandungan lemak (fat) awal yang telah di pelajari terdahulu. perbandingan ΔLBM: ΔW langsung berhubungan dengan besarnya energi yang hilang. Perbandingan (ratio) ini menjadi sangat tinggi pada orang yang memiliki penurunan yang drastis (cepat dan progresif), misalnya kelebihan lean akan disimpan, sebanding dengan makanan yang dikonsumsi berlebih. Menurut penelitian Callowy dan Spektor (1954, distasi dari present knowledge), disimpukan bahwa tendensi hilangnya berat dan lemak tergantung pada waktu dan kecepatan hilangnya penurunan berat.
c.       Pada penderita obese yang mengalami operasi by pass usus atau gastric stapling juga menderita kehilangan LBM disertai hilangnya berat. Penelitian menunjukkan adanya variasi LBM berkisar 15-40 persen dari total berat yang hilang.




B.     Kelebihan Energi
Pada keadaan kekurangan energi, terjadi induksi pada pertambahan berat karena kedua peningkatan komponen, baik pada LBM ataupun lemat (fat). Menurut hasil penelitian rata-rata pertambahn berat (=ΔW). Sepertiganya berisi LBM. Hal ini terjadi tanpa memerhatikan kecukupan protein dan esensi lainnya. Jika terjadi pada diet-induksi berat yang hilang serta pertambahan berat secara hitungan, terbukti bahwa LBM dan  lemak merupakan penjumlahan. Jika terjadi perubahan pada salah satunya, maka salah satunya juga berubah, tetapi proporsinya tidak selalu sama.

C.    Komposisi Tubuh pada Keadaan Obesitas
Terdapat pengecualian, yaitu kegemukan dapat berkembang pada wajah yang terjadi pada keseimbangan energi positif, kemudian berkembang menjadi penyakit. Obese pada anak-anak mempunyai kecenderungan menuju ke tinggi badan per umur. Penelitian obese pada anak, remaja, dan dewasa menunjukkan porsi kelebihan berat (10 – 30 persen) terdiri dari LBM. Data menunjukkan bahwa rata-rata kejadian obese di sebabkan oleh overnourhished (kelebihan zat gizi). Namun, bukan karena peningkatan aktivitas adrenocorticoid dan diet yang diperkaya energi, tetapi sangat rendah protein. Keadaan tersebut di bawah jaminan bahwa lemak tubuh (fat) meningkatkan terbatas pada LBM.
Eksperimen menunjukkan adanya obese pada hewan percobaan tikus Zucker setelah dilakukan induksi dengan cara melukai hypothalamusnya. Hewan ini menjadi pendek dan memiliki LBM terkecil di banding kontrol dan tidak dapat dipakai secara model untuk orang.

D.    Komposisi Tubuh pada Keadaan Kurang Gizi
Pada penelitian dengan anoreksia nervosa terjadi reduksi fan dan LBM. Pada keadaan kurang gizi, umumnya volume cairan ekstraseluler membunyai tendensi tersedia daripada ekstraseluler dengan intraseluler meningkat. Pada penderita malnutrisi, terutama karena komplikasi trauma dan infeksi, sel tubuh memiliki jumlah kalium, fosfor, magnesium, tetapi jumlah natrium meningkat.




E.     Pengaruh Lain – Aktivitas Fisik
Mempunyai kontribusi dalam hal menyeimbangkan LBM (stabilkan), LBM mempunyai tendensi terganggu pada keadaan bedrest dan kurangnya pengaruh aktivitas.
a.       Latiha tetap dan giat. Memberikan hasil peningkatan LBM dan penurunan fat.
b.      Training pada atlet dalam jangka panjang. Besarnya LBM dan rendahnya lemak terjadi pada kebanyakn atletik, baik pengaruh herediter maupun karena lama waktu latihan.
c.       Pengaruh striking. Pada  kejadian yang menyolok seperti pemberian steroid anabolik, dosis besar akan terjadi peningkatan LBM bila di bandingkan dengan laithan saja.
d.      Jenis kelamin. Antara laki-laki dan perempuan terdapat perbedaan komposisi tubuh.

Komposisi tubuh laki-laki dan perempuan menurut standar Komite Internasional dapat diperlihatkan pada Tabel.

Komponen
Laki-laki
perempuan
G
mol
g
mol
Air
Hidrogen (bukan air)
Oksigen (bukan air)
Karbon
Nitrogen
Kalsium
Fosfor
Kalium
Natrium
Chlorine
Sulfur
Magnesium
Silicon
Besi
Fluorin
Zinc
Cuprum
Mangan
Iodine
45000
2000
2900
16000
1800
1100
500
140
100
95
140
19
18
4,2
2,6
2,3
0.07
0.01
0.01
2500 mol
1000 mol
90 mol
13333 mol
64 mol
27 mol
16 mol
3600 mmol
4170 mmol
2660 mmol
4400 mmol
780 mmol
640 mmol
75 mmol
140 mmol
35 mmol
1.1 mmol
180 µmol
79 µmol
31000



1300
830
400
100
77
70
1700 mol



46 mol
21 mol
2560 mmol
3200 mmol
2000 mmol
BAB IV
KEBUTUHAN GIZI INDIVIDU

A.    Kebutuhan Gizi Ibu Hamil dan Menyusui
a.      Kebutuhan Gizi Ibu Hamil
Awal kehidupan setiap manusia di mulai dari dalam kandungan yaitu dalam proses kehamilan. Di tinjau dari kehamilan normal berlangsung selama 38-40 minggu. Jika dihitung dengan ukuran hari, kehamilan akan berakhir sesudah 266 hari atau 38 minggu pascaovulasi, atau kira kira 40 minggu dari akhir hari pertama haid terakhir. Seorang wanita baru dapat di pastikan hamil jika pemeriksa telah melihat tanda hamil, yaitu : berhenti haid (2-4 minggu setelah konsepsi); mendengar detak jantung janin; dapat melihat dari USG (ultrasonografi); meraba bentuk janin; dan uji hormon HCG (human chorionik gonadotropin) dalam urine. Sebagai organ endoktrin, plasenta menghasilkan berbagai hormon yang sangat penting untuk proses kehamilan. hormon ini antara lain : Estrogen, Progesteron, dan HCG (human chorionik gonatropin). Peningkatan produksi estrogen berpengaruh pada pembesaran uterus, mammae, organ genital; retensi cairan yang menyebabkan pertambahan natrium; perubahan disposisi lemak dan faktor pembekuan dalam darah; relaksasi persendian; penurunan produksi HCL (asam klorida) dan pepsin dalam lambung. Progesteron memacu pertumbuhan endometrium, penumpukan lemak ibu, peningkatan retensi natrium dan pelemasan jaringan otot polos (mengakibatkan penurunan kelenturan rahim, gerak lambung dan tonnus otot). Kelenjar endoktrin juga menunjukkan perubahan. Kelenjar hipofisis dan tiroid membesar sedikit, laju metabolisme basal meningkat (akibat peningkatan konsumsi oksigen serta luas permukaan tubuh ibu dan bayi) sebanyak 25%. Disamping itu, kelanjar paratiroid juga membesar, inilah yang menyebabkan peningkatan kebutuhan vitamin D dan mineral kalsium. Setelah trimester II perubahan fisiologi pada kehamilan adalah volume plasma yang naik 40-50% meneybabkan anemia pada kehamilan walaupun RBC (red blood cell) atau sel darah merah jumlahnya bertambah 33%, kadar protein plasma akan turun, ginjal alan membesar untuk kompensasi kerja yang lebih kesar. Pertumbuhan dan perkembangan yang terjadi baik pada ibu maupun janin menyebabkan konsumsi oksigen meningkat sehingga dampaknya cardiac output naik sehingga jantung juga membesar 12%. Terjadi vasidilatasi perifer yang menyebabkan tekanan diastolik menurun sehinggan memicu terjadinya edema, BMR (basal metabolisme rate) akan naik 15-20%. Pada saluran pencernaan diawal kehamilan perubahan hormon menyebabkan mual dan muntah sehingga nafsu makan akan turun kemudian secara bertahap nafu makan akan meningkat, daya serap usus juga meningkat, gerakan peristaltik melabat sehingga sering muncul masalah konstipasi. Demikianlah anatara lain perubahan yang terjadi selama kehamilan. Setelah kita mengetahui perubahan yang begitu besar pada seorang ibu yang sedang hamil, kita akan pelajari bagaimana dengan kebutuhan gizi ibu hamil agar kehamilan dapat optimal. Dalam setiap harinya, ibu hamil dianjurkan untuk menambah zat gizi di banding kindisi normal. Energi tambahan bagi ibu hamil (bumil) pada trimester (TM) II dibutuhkan untuk; pemekaran jaringan ibu yaitu penambahan volume darah, pertumbuhan uterus dan payudara serta penumpukan lemak. Sepanjang trimester III, energi tambahan di pergunakan untuk pertumbuhan janin dan placenta. Gizi berpengaruh terhadap kesehatan dan daya tahan tubuh ibu hamil, baik sebelum maupun ketika sedang hamil. Sedangkan bagi bayi; status gizi janin yang dilahirkan dari ibu dengan malnutrisi sebelum hamil atau selama seminggu pertama kehamilan cenderung akan melahirkan bayi yang menderita kerusakan otak dan sumsum tulang karena sistem syaraf pusat sangat peka 2-5 minggu pertama kehiamilan. Ibu penderita atau mengalami malnutrisi sepnajang minggu terkahir kehamilan akan melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah. Faktor yang memengaruhi status gizi ibu sewaktu konsepsi terdiri dari : keadaan sosial dan ekonomi ibu sebelum hamil; keadaan kesehatan dan gizi ibu; jarak kelahiran jika yang dikandung bukan anak pertama; paritas; dan usia kehamilan pertama. Sedangkan status gizi ibu pada waktu melahirkan di pengaruhi : keadaan sosial dan ekonomi iu waktu hamil; derajat pekerjaan fisik; asupan pangan; pernah tidaknya terjangkit penyakit infeksi. Perlu diingat adalah status gizi ibu ketika hamil dan melahirkan akan memengaruhi gizi anaknya. Makanan bumil sebaiknya disesuaikan dengan keluhan yang dialami, seperti pada Trimester I; nafsu makan menurun, rsa mual, dan muntah sebiknya diberikan makanan kering dan tinggi karbohidrat, serta buah-buahan, selanjutnya pada Trimester II; kebutuhan kalori mulai meningkat, Berat badan mulai bertambah, pada masa ini sebaiknya diberikan makanan seimbang, banyak buah dan sayur, sedangkan pada Trimester III nafsu makan baik sehingga makanan diberikan porsi kecil tapi sering, banyak buah dan sayur. Banyak hal-hal yang harus dipertimbangkan pada saat menyusun menu seimbang bagi ibu hamil yaitu : perhatikan kebutuhan energi dan zat gizi, khususnya protein, Fe, vitamin C, calcium, pemilihan zat jenis bahan makanan dan pengolahannya sesuaikan dengan keluhan ibu; bentuk dan frekuensi makan disesuaikan dengan keluhan ibu. Faktor yang memengaruhi hasil kehamilan meliputi asupan zat gizi makanan ibu; status gizi prahamil; pertambahan berat badan selama hamil; kondisi ibu pada masa remaja (masih dalam proses pertumbuhan); jumlah janin per kehamilan; gizi kurang saat pra hamil dan kurnag asupan selama hamil beresiko terjadinya abortus, stillbirt, dan berat bayi lahit rendah (BBLR); Obesitas menyebabkan kesulitan untuk hamil, resiko hipertensi selama kehamilan dan berisiko diabetes gestasional (diabetes yang dipicu oleh adnay kehamilan).
Penambahan berat badan yang di rekomendasikan selama hasil dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Kebutuhan Gizi Selama Kehamilan

Indeks Massa Tubuh (IMT) Pra Hamil
Total Tambahan BB (Kg)
Tambahan BB Trimester I (Kg)
Tambahan BB Per Minggu Trimester II, III (Kg)
< 18,5
18,5 – 23
23-27
>27
12,5-18
11,5-16
7,0-11,5
6,0
2,3
1,6
0,9
0,5
0,4
0,3

Kebutuhan Energi, Protein dan Vitamin Larut Lemak pada Ibu Hamil

Zat Gizi
Pra Hamil
Hamil
Energi (kcal)


Protein
Vitamin A (µgRE)

Vitamin D (µg)* AI
Vitamin E (mg α-TE)
Vitamin K (µg)
Tergantung BB


0,8/KgBB
700

5
15
90
+ trimester
+340 trimeseter
+452 trimester
+25
770 (18 th)
750 (≤18 th)
5
15
90 (>18 th)
75 (≤ 18 th)



Kebutuhan Vitamin Larut Air Selama Hamil

Zat Gizi
Pra Hamil
Hamil
Vitamin C (mg)

Thiamin (mg)
Riboflavin (mg)
Niacin (mg NE)
Vitamin B6 (µg)
Folat (µ g)*
Vitamin B12 (µg)
Blotin (µ g)*AI
As. Pantotenat (mg)*AI
Kolin (mg)*AI
75

1.1
1.1
1.4
1.3
400
2.4
30
5
425
85 (> 18 th)
80 (≤ 18 th)
1.4
1.4
18
1.9
600
2.6
30
6
450

Kebutuhan Mineral Selama Hamil

Zat Gizi
Pra Hamil
Hamil
Kalsium (mg)*AI

Fosfat (mg)

Magnesium (mg)

Fluoride (mg) *AI
Besi (mg)
Seng (mg)

Iodine (µg)
Selenium (µg)
1000

700

310

3
18
8

150
55
1000 (>18 th)
1300 (≤18th)
700 (>18 th)
1250 (≤18th)
350 (>18th)
400 (≤18 th)
3
27
11 (>18 th)
12 (≤18 th)
220
60

Dampak Kekurangan Gizi Ibu Hamil
Pada trimester I dikaitkan dengan tingginya kejadian bayi lahir prematur, kematian janin, dan kelainan pada sistem saraf pusat bayi. Sedangkan kekurangan energi yang terjadi pada trimester II dan III dapat menghambat pertumbuhan janin atau janin tidak berkembang sesuai usai kehamilannya. Contoh konkretnya adalah kekurangan zat besi yang terbilang paling sering dialami saat hamil. Gangguan ini membuat ibu mengalami anemia atau kekurangan sel darah merah. Kekurangan asam folat juga dapat menyebabkan anemis, selain kelainan bawaan pada bayi, dan keguguran. Menu makanan sehari-hari ibu hamil pada dasarnya tidak berbeda dengan sebelum hamil, hanya porsinya lebih banyak dan lebih bervariasi, berikut contoh bahan makanan sehari :

Kelompok bahan makanan
Porsi
Roti, serelia, nasi dan mie
6
Sayuran
3
Buah
4
Susu, yogurt, keju
2
Daging, ayam, ikan, telur, kacang-kacangan
3
Gula
2
Lemak, minyak


b.      Kebutuhan Gizi Ibu Menyusui
Produksi hormon Estrogen dan Progesteron pada saat remaja menyebabkan kelenjar susu dan salurannya terbentuk, sehingga payudara wanita membesar. Ketika ibu mengalami kehamilan, maka ibu memproduksi hormon plokatin dan plasenta memproduksi hormonlaktogen, sementara itu produksi ekstrogen dan progesteron juga bertambah. Apa yang ibu makan selama menyusui akan mempengaruhi kandungan zat gizi dari ASI (Air Susu Ibu). Makanan ibu bisa mempengaruhi gizi pada bayi lewat pemberian ASI.
Hindari makanan berbumbu tajam atau pedas juga kafein karena bisa menjadi stimulan bagi bayi seperti kambung, diare, alergi atau masalah lain. Makanan yang mungkin perlu ibu hindari karena dapat menimbulkan gangguan pencernaan; kafein yang ada dalam minuman ibu, bukan hanya membuat ibu terjaga tapi juga membuat bayi sulit tidur sehingga waktu istirahat ibu pun berkurang. Padahal ibu butuh istirahat untuk kembali mengurus bayi esok harinya; Produk olahan susu, bawang bombay, kubis mungkin membuat bayi ibu kembung dan kolik.
Kebutuhan Nutrisi ibu menyusui meliputi Kebutuhan Energi, untuk memproduksi air susu baru (ASI), ibu menyusui perlu tambahan energi yang bersumber 1) makanan sesesar 330 kkal pada enam bukan pertama dan 400 kkal pada enam bulan kedua 2) 100-150 kkal dari lemak cadangan tubuh ibu sendiri. Karena lemak tubuh dipakai maka BB ibu post partum turun 0,5 sampai dengan 1kg/bulan. Kebutuhan Protein : Tambahan protein enam bulan pertama dan kedua 25g/hari. Asupan lemak adalah 25-30% asupan energi, Asupan Karbohidrat kira-kira 160-200 g/hari. Kebutuhan vitamin ibu menyusui lebih besar dibandingkan ibu hamil kecuali vitamin D dan K. Ibu menyusui yang kekurangan vitamin menyebabkan vitamin ASI juga berkurang. Kebutuhan mineral ibu menyusui lebih besar dibandingkan dengan ibu hamil kecuali : Ca, P, Mg, F, dan Mo. Selama belum mengalami menstruasi pasca melahirkan kebutuhan Fe ibu lebih sedikit dari ibu yang tidak hamil.
Kebutuhan aur pada ibu menyusui bertambah sebanyak produksi ASI (jadi sebaiknya ibu minum 1 gelas per kali menyusui). Sebaiknya ibu menyusui tidak minum kpoi karena kois bisa masuk melalui ASI yang menyebabkan bayi susah tidur. Hal-hal yang harus dihindari ibu menyusui antara lain : merokok, obat-obatan, radiasi.
Perhitungan kebutuhan energi ibu menyusui menggunakan Metode Harrist Benedict, hasil yang di dapatkan di tambah 500 kkal untuk 6 bulan pertama dan ditambah 500 kkal untuk 6 bulan kedua. Kebutuhan protein : 1gr/kg BB/hari, ditambah 17 gram. Kebutuhan lemak : 25-30% dari total kebutuhan energi.

B.     Kebutuhan Gizi Bayi dan Anak
a.      Kebutuhan Gizi Bayi
Bayi memerlukan zat gizi pada makanan dengan kebutuhan yang berbeda-beda sesuai dengan umutnya, misalnya, pada bayi yang berumur kurang dari 4 bulan, kebutuhannya akan zat-zat gizi berbeda dengan bayi yang berumur di atas 4 bulan. Tabel dibawah ini menggambarkan keperluan energi dan protein bayi menurut golongan umurnya.

Kebutuhan Energi dan Protein pada Bayi

Umur  Bulan
Berat Badan Rata-Rata (Kg)
Kebutuhan Kalori Per Hari
Kebutuhan Protein Per Hari
0-3
4,1
492 kal
10 gr
4-6
6,4
735 kal
15 gr
7-9
7,7
850 kal
18 gr
10-12
9,2
970 kal
19 gr

Menurut Karjadi (2011), banyak para peneliti ang menaruh perhatian terhadap  perkembangan otak dimana sangat erat hubunganya dengan perkembangan mental dan kemapuan berpikir. Jaringan otak anak yang tumbuh normal akan mencapai 80% berat otak orang dewasa sebelimm berumur 3 tahun, sehinggan denga demikian apabila pada masa ini terjadi gangguan gizi kurang dapat menimbulkan kelainan-kelainan fisisk maupun mental. Gizi buruk mengakibatkan terjadinya gangguan terhadap produksi antibodi dalam tubuh. Penurunan produksi antibodi tertentu akan mengakibatkan mudahnya bibit penyakit masuk kedalam tubuh seperi dinding usus. Dinding usus dapat mengalami kemunduran dan juga dapat menganggu produksi berbagai enzim untuk pencernaan makanan. Makanan tidak dapat di cerna dengan baik dan ini akan menyebabkan terganggunya penyerapan zat gizi sehingga dapat memperburuk keadaan gizi.

b.      Kebutuhan Gizi Anak
Gizi merupakan faktor terpenting dalam pola tumbuh kembang balita. Pertumbuhan (growth) berkaitan dengan masalah perubahan dalam besar, jumlah, ukuran atau dimensi tingkat sel, organ maupun individu yang bisa di ukur dan berdampak pada aspej fisik. Sedangkan perkembangan (development) adalah bertambahnya kemampuan (skill) dlam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan, sebagai hasil dari proses pematangan.
Beberapa ahli mengungkapkan konsep yang berbeda tentang faktor-faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang seseorang. Dari perbedaan tersebut dapat ditarik persamaan tentang faktor-faktor yang memengaruhi tumbuh kembang seseorang yaitu biologi (genetik), perilaku dan lingkungan. Kebutuhan dasar anak untuk tumbuh dan berkembang, secara umum dibagi menjadi 3 kebutuhan dasar anak, yaitu : 1) kebutuhan fisik biomedis (ASUH), meliputi : pangan / gizi yang merupakan kebutuhan penting; perawatan kesahatan dasar antara lain imunisasi, pemberian ASI, penimbangan bayi/anak secara teratur; papan/pemukiman yang layak; Higiene peroragan, sanitasi lingkungan; kesegaran jasmani, rekreasi. 2) kebutuhan emosi/ kasih sayang (ASIH) terdiri dari: Hubungan yang erat,mesra dan selaras antara ibu/  pengganti ibu dnegan anak merupakan syarat mutlak untuk menjamin tumbuh kembang yang selaras baik fisik, menta maupun psikososial. Ini di wujudkan dengan kontak fsik dan psikis sedini mungkin. Kasinh sanyang dari orang tua akan menciptakan ikatan yang erat (bonding) dan kepercayaan dasr (basic trust), 3) Kebutuhan akan stimulasi (ASAH) : Stimulasi merupakan cikal bakal dalam proses belajar (pendidikan dan pelatihan) pada anak. Stimulasi mental (ASAH) ini mengembangkan perkembangan mental psikososial : kecerdasan, keterampilan, kemandirian, kreativitas, agama, kepribadian, moral etika, produktivitas. Faktor yang mempengaruhi status gizi, Gangguan gizi pada balita merupakan dampak kumulatif dari berbagai faktor baik yang berpengaruh secara langsung ataupun tidak langsung terhadap gizi anak.

c.       Gizi pada Anak Usia Sekolah
1.      Pola makan anak usia Taman Kanak-Kanak (4-6 tahun). Anak sudah mempunyai sifat konsumen aktif, yaitu mereka sudah bisa memilih makanan yang disukainya. Perlu ditanamkan kebiasaan makan dengan gizi yang baik pada usia dini dan di skeolah diarahkan pula oleh gurunya dengan praktof mengkonsumsi makanan yang sehat seacara rutin. Program makan bersama di sekolah sangan baik dilaksanakan karena ini merupakan model dasar bagi pengertian anak supaya dilaksanakan pada pola makan dengan gizi yang baik.
2.      Pada usi 7-9 tahun anak pandai menentukan yang di sukai karena sudah mengenal lingkungan.
Banyak anak pandai menyukai makanan jajanan yang dapat mengurangi nafsu makan anak. Perlu pengawasan supaya tidak salah memilih makanan karena pengaruh lingkingan.
3.      Pada usia 10-12 tahun kebutuhan sudah dibagi dalam jenis kelaminnya : anak laki-laki lebih banyak aktivitas fisik sehingga memerlukan energi yang banyak dibandingkan anak perempuan. Anak perempuan sudah mengalami masa haid sehingga lebih banyak protein, zat besi dari usia sebelumnya. Perlu diperhatikan pula adalah pentingnya sarapan pagi supaya konsentrasi belajar tidak terganggu.






4.      Upaya pemeliharaan gizi anak haruslah metupakan upaya pemeliharaan gizi paripurna yang mencakup berbagai aspek yang dimulai sejak anak masih ada dalam rahim ibunya. Terdapat 5 upaya yang merupakan satu kesatuan sebagai strategi dasat pemeliharaan gizi anak, yaitu : a) pemeliharaan gizi pada masa presental, b) pembgawasan tumbuh kembang anak sejak lahir, c) pencegahan dan penganggulangan dini penyakit infeksi melalu imunisasi dan pemeliharaan sanitasi, d) pengaturan makanan yang tepat dan benar, dan e) pengaturan jarak kehamilan.

C.    Kebutuhan Gizi pada Usia Remaja dan Dewasa
a.      Kebutuhan Gizi Remaja
Adolescent (remaja) adalah usia 10-19 tahun. Pada fase ini merupakan masa transisi artinya bukan lagi anak-anak tetapi juga belum masuk kategori dewasa. Remaja merupakan 20% populasi dunia dan 80% populasi di negara berkembang, merupakan periode yang banyak gejolak dan merupakan waktu kritis dalam pertumbuhan fisik, psikologis dan perilaku.
Mengapa perkembangan harus mendapat perhatian? Hal ini dikarenakan mereka telah survive dari penyakit dimasa anak-anak dan masalah kesehatannya akan berkaitan dengan proses menua jauh dimasa depan. Remaja masuk kelompok rentan gizi disebabkan gaya hidup dan kebiasaan berubah serta perubahan kebutuhan karena perubahan fisik. Zat gizi khusus diperlukan berkaitan dengan kegiatan remaja misalnya olah raga, dan persiapan kehamilan (bagi remaja puteri). Perubahan Fisik pada remaja dapat terlihat pada perubahan puncak dari tinggi badan (TB). Kenaikan TB bisa sampai 8-15 cm dalam beberapa bulan dan bersifat individual, perubahan lainnya adalah pada pertambahan berat badan yang cepat, massa otot bertambah, diikuti dengan kekuatannya, pematangan massa tulang, peningkatan ukuran organ dalam, perubahan hormon seperti timbul jerawat, dan bau badan serta perubahan suara dan perubahan komposisi gigi. Pubertaspun terjadi pada fase ini, yaitu terjadinya perubahan bentuk tubuh , perkembangan sistem reproduksi, hormon sex yang akan mempengaruhi perilaku dan emosi. Proses pubertas ini akan berlangsung 3 sampai 7 tahun . Pada perempuan, paling dini terjadi pada usia 6-7 tahun dan paling lambat usia 13 tahun ditandai dengan menarche atau haid pertama kali, dan berkaitan dengan pertumbuhan payudara .
Pada laki-laki, paling dini berlangsung pada usia 8 tahun, dan paling lambat usia 13,5 tahun, sehingga pada laki-laki bisa cepat dewasa atau sebaliknya. Sedangkan perubahan psikologis ditandai dengan mulai terjadi kematangan berpikir, emosional dan intelektual, serta perkembangan kognitif dan emosional.
Periode Remaja dibagi menjadi 3 tahapan, yaitu:
1.      Remaja Awal : mulai percepatan pertumbuhan; mulai berpikir body image; mulai mengikuti idola; sesama jenis dan umur .
2.      Remaja (14-16 thn) : puncak pertumbuhan, jerawat, bau badan; mulai terjadi perkembangan kognitif dan moral; menolak pola makan keluarga, karena gengsi ; dan lebih mementingkan penampilannya.
3.      Remaja Akhir: pertumbuhan melambat; mulai memegang nilai-nilai tertentu; kognitif dan moral: idealis, konsisten dengan nilai dan kepercayaan yang dimiliki; dan segala sesuatunya harus dengan penjelasan . Sekarang kita masuk kebahasan kebutuhan gizi remaja, energi sangat diperlukan dalam jumlah banyak untuk pertumbuhan dan aktivitas yang memasuki periode tumbuh cepat. Kebutuhan energi pada remaja dipengaruhi oleh energi basal, jenis kelamin, faktor aktivitas, dan adanya penyakit. Semua kebutuhan zat gizi meningkat pada masa remaja. Jumlah zat gizi yang dibutuhkan ini disesuaikan dengan daftar Angka Kecukupan Gizi (AKG). Protein; seimbang (1gr/kgBB/hr). Mineral Fe & Ca kebutuhannya 800-1200 mg/hr . Kebutuhan gizi harus sehat dan seimbang. Makanan harus cukup semua zat gizi. Masalah gizi meliputi ; pengetahuan tentang gizi yang relatif masih kurang; aktifitas fisik yang tinggi; Pola makan yang tidak teratur; defisiensi besi karena mulai menstruasi pada putri; dan obesitas .

b.      Kebutuhan Gizi Dewasa
Pada umumnya, rentang usia ini menjadi masa pencapaian keberhasilan kerja, kemapanan gaya hidup, sikap dan nilai kehidupan yang akan diwariskan kepada anak-anaknya kelak, membesarkan anak dan tugas sosial dalam melakukan aktualisasi diri. Kategori usia dewasa dibagi menjadi dua yaitu dewasa muda antara umur 18 – 30 tahun dan dewasa tua umur > 30 thn. Kebutuhan kalori mulai berkurang pada usia 25 tahun, tergantung pada aktivitas fisik, jenis kelamin, dan massa tubuh. Zat besi dibutuhkan oleh usia subur selama masa reproduksi, untuk menggantikan kehilangan zat besi selama menstruasi, kehamilan, kelahiran dan menyusui, kalsium juga berperan penting untuk pertulangan, mengingat kehilangan kalsium dalam massa tulang berkurang pada masa usia lanjut. Kebiasaan minum susu atau makan bahan makanan sumber kalsium cukup dianjurkan pada usia dewasa. Pengaturan makanan yang baik : makan makanan rendah lemak, makan rendah kolesterol; makan lebih banyak serat : buah, sayur, dan kacang-kacangan; makan lebih banyak karbohidrat kompleks : biji-bijian, kacang-kacangan, dan sayuran; hindari alcohol; baca labelmakanan, dan kurangi konsumsi gula. Masalah gizi pada usia dewasa meliputi : Kurang Energi Protein (KKP), Anemia pada wanita dan masalah Gizi lebih/Obesitas. Gizi lebih ini disebabkan adanya kecenderungan masyarakat untuk memilih makanan yang tinggi kalori dan lemak tetapi rendah serat terutama karena meningkatnya status ekonomi , faktor gaya hidup yg kurang gerak /aktivitas juga menyebabkan penimbunan lemak tubuh yang mengarah pada kegemukan. Seiring dengan meningkatnya usia, kecepatan metabolisme tubuh juga mulai menurun mulai usia 30 tahun, bila aktivitas fisik juga berkurang maka timbunan lemak menyebabkan kegemukan. Faktor lain yg juga berperan dlm kegemukan adalah : genetik; usia; kehamilan; perilaku dan lingkungan. Beberapa prinsip penting dalam mencegah penyakit : 1) olahraga dan aktivitas fisik : Aktivitas fisik perlu diintegrasikan dalam kegiatan sehari-hari (gunakan tangga dari pada lift/elevator); Kegiatan olah raga sebaiknya dimulai sejak anak-anak dan remaja untuk membentuk kebiasaan sepanjang hidup; Orang dewasa perlu digalakkan untuk meningkatkan kebiasaan beraktivitas fisik sehari-hari, setidaknya 30 menit olah raga dengan intensitas sedang setiap hari; Para wanita sebaiknya diberi kesempatan untuk melakukan berbagai aktivitas olah raga yang menarik, teratur dan konsisten.
Manfaat olahraga ini adalah menguatkan jantung dan meningkatkan efisiensinya; meningkatkan daya vaskuler otot jantung; membantu mempertahankan tekanan darah normal; Meningkatkan High-density lipoproteins (HDL/kolesterol baik) dan menurunkan kadar kolesterol total; meningkatkan kekuatan otot dan menurunkan risiko kelemahan sendi dan tulang; mengurangi kehilangan kalsium tulang, menurunkan risiko osteoporosis; mempengaruhi suasana hati (mood) dan daya konsentrasi.

Prinsip gizi seimbang dewasa : Tubuh manusia membutuhkan aneka ragam makanan yang dijamin mengandung sumber karbohidrat (nasi, roti, kentang, mie, singkong, dll), protein hewani/nabati (ikan, telur, daging, ayam, tempe, tahu, kacang-kacangan), vitamin dan mineral ( buah-buahan, sayuran), dan sumber lemak/minyak (minyak goreng, santan, mentega, margarin) dan air .

D.    Kebutuhan Gizi pada Lanjut Usia
a.      Perubahan Fisik Lanjut Usia
Batasan lansia Menurut Durmin lansia dibagi menjadi Young ederly (65-75 th) dan older ederly (75 th). Menurut Munro dkk older ederly ini dibagi 2 yaitu, usia 75-84 tahun dan 85 tahun. Menurut M.Alwi Dahlan lansia adalah usia diatas 60 tahun. Ketegori lansia bisa juga menggunakan usia pensiun yaitu usia diatas 56 tahun. Menurut World Health Organization (WHO), 2016 lansia dibagi menjadi usia pertengahan (45-59), usia lanjut (60-74), usia tua (75-90), dan sangat tua (>90).
Faktor yang memengaruhi kebutuhan gizi lansia yaitu perubahan fisik, psikologis dan sosial yang disebabkan oleh proses penuaan. Perubahan fisik secara umum pada lansia terjadi penurunan fungsi dari semua sistem organ, fungsi endokrin menurun sehingga metabolisme nutrisi terganggu, asam lambung dan enzim menurun, gerakan usus/gerakan peristaltik lemah dan biasanya menimbulkan konstipasi. Penyerapan makanan di usus menurun. Selain masalah fisik, pemenuhan kebutuhan gizi lansia dipengaruhi juga oleh faktor psikologi seperti depresi, kehilangan pasangan, hidup menyendiri, faktor lain misalnya berkurang atau hilangnya penghasilan sehingga tidak mampu membeli makanan yang cuku, akses ketempat makan sulit dijangkau, metabolisme basal menurun, kebutuhan kalori menurun, status gizi lansia cenderung mengalami kegemukan/obesitas, Aktivitas/ kegiatan fisik berkurang, kalori yang di pakai sedikit, bila ekonomi meningkat, konsumsi makanan menjadi berlebihan, akibatnya cenderung kegemukan/obesitas.
Begitu juga fungsi pengecap/penciuman menurun/hilang, makan menjadi tidak enak dan nafsu makan menurun, akibatnya lansia bisa menjadi kurang gizi (kurang energi protein yang kronis), penyakit periodontal (gigi tanggal), akibatnya kesulitan makan yang berserat (sayur, danging) dan cenderung makan makanan yang lunak (tinggi kalori), hal ini menyebabkan lansia cenderung kegemukan/ obesitas. Penurunan sekresi asam lambung dan enzim pencerna makanan mengganggu penyerapan vitamin dan mineral, akibatnya lansia menjadi defisiensi zat-zat mikro. Mobilitas usus menurun, mengakibatkan susah buang air besar, sehingga lansia menderita wasir yang bisa menimbulkan pendarahan dan memicu terjadinya anemia, sering menggunakan obat-obatan atau alkohol dapat menurunkan nafsu makan yang menyebabkan kurang gizi dan hepatitis atau kanker hati.
Gangguan kemampuan motorik, akibatnya lansia kesulitan untuk menyiapkan makanan sendiri dan menjadi kurang gizi; kurang bersosialisasi, kesepian (perubahan psikologis), akibatnya nafsu makan dan menurun dan menjadi kurang gizi; pendapatan menurun (pensiun), konsumsi makanan menjadi menurun akibatnya menjadi menurun akibatnya menjadi kurang gizi, dimensia (pikun), akibatnya sering makan atau malah jadi lupa makan, yang dapat menyebabkan kegemukan atau pun  kurang gizi.

b.      Kebutuhan Gizi Lansia.
1.      Kebutuhan Karbohidrat dan Serat Makanan.
Salah satu masalah yang banyak didertia para lansia adalah sambelit atau konstipasi (susah buang air besar) dan terbentuknya benjolan-benjolan pada usus. Serat makanan telah terbukti dapat menyebabkan kesulitan tersebut. Sumber serat yang baik bagi lansia adalah sayuran, buah-buahan segar dan biji-bijian utuh. Manula tidak dianjurkan mengkonsumsi suplemen serat (yang dijual secara komersial), karena dikuatirkan konsumsi gula-gula sehingga tidak dapat diserap tubuh. Lansia dianjurkan untuk mengurangi konsumsi gula-gula sederhana dan menggantinya dengan karbohidrat kompleks, yang berasal dari kacang-kacangan dan biji-bijian yang berfungsi sebagai sumber energi.

2.      Kebutuhan Protein
Secara umum kebutuhan protein bagi orang dewasa per hari adalah 1 gram per kg berat badan. Pada lansia, massa ototnya berkurang. Tetapi ternyata kebutuhan tubuhnya akan protein tidak berkurang, bahkan harus lebih tinggi dari orang dewasa, karena pada lansia efisiensi penggunaan senyawa nitrogen (protein) oleh tubuh telah berkurang (disebabkan pencernaan dan penyerapannya kurang efisien). Bebrapa penelitian merekomendasikan, untuk lansia sebaiknya konsumsi proteinnya di tingkatkan sebesar 12-14% dari porsi untuk orang dewasa. Sumber protein yang baik diantaranya adalah pangan hewani dan kacang-kacangan.
3.      Kebutuhan Lemak
Konsumsi lemak yang dianjurkan adalah 30 % atau kurang dari total kalori yang dibutuhkan. Konsumsi lemak total yang terlalu tinggi (lebih dari 40% dari konsumsi energi) dapat menimbulkan penyakit atherosclerosis (pemnyumbatan pembukuh darah ke jantung). Juga dianjurkan 20% dari konsumsi lemak tersebut adalah asam lemak tidak jenuh (PUFA = poly unsaturated faty acid). Minyak nabati merupakan sumber asam lemah tidak jenuh yang baik.
4.      Kebutuhan Vitamin dan Mineral
Hasil penelitian menyimpulkan bahwa umumnya lansia kurang mengonsumsi vitamin A, B1, B2, B6,niasin, asam fosfat, vitamin C,D, dan E umumnya kekurangan ini terutama disebabkan dibatasinya konsumsi makanan, khususnya buah-buahan dan sayuran, serta kemampuan fisik yang menurun. Kekurangan mineral yang paling banyak diderita lansia adalah kurang mineral kalsium yang menyebabkan kerapuhan tulang dan kekurangan zat besi menyebabkan anemis. Kebutuhan vitamin dan mineral bagi lansia menjadi penting untuk membantu metabolisme zat-zat gizi yang lain. Sayuran dan buah hendaknya dikonsumsi secara teratur sebagai sumber vitamin dan mineral dan serat. Sayuran dan buah hendaknya dikonsumsi secara teratur sebagai vitamin dan mineral, akibatnya lansia menjadi defisiensi zat-zat gizi mikro. Mobilitas usus menurun, mengakibatkan susah buang air besar, sehingga lansia menderita wasir yang bisa menimbukan pendarahan dan memicu terjadinya anemia. Sering menggunakan obat-obatan atau alkoho, hal ini dapat menurunkan nafsu makan yang menyebabkan kekurangna gizi dan hepatitis atau kanker hati. Gangguan kemampuan motorik, kurang bersosialisasi, kesepian (perubahan psikologis), akibatnya nafsu makan menurun dan menjadi kurang gizi. Pendapatan menurun (pensiun), konsumsi makanan menjadi menurun dan akibatnya menjadi kurang gizi. Dimensia (pikun), akibatnya sering makan atau malah jadi lupa makan, yang dapat menyebabkan kegemukan atau pun kurang gizi
BAB V
PENILAIAN STATUS GIZI INDIVIDU

A.    Pemeriksaan Status Gizi
Penilaian status gizi ini dapat dilakukan dengan melakukan beberapa pemeriksaan, seperti pemeriksaan antropometri, yang meliputi pemeriksaan berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas, pemeriksaan klinis dan laboratorium yang dapat digunakan untuk menentukan status gizi anak. Selanjutnya dalam penilain status gizi anak dapat disimpulkan apakah anak mengalami gizi baik, cukup, atau gizi yang kurang.
B.     Pemeriksaan Nadi
Pemeriksaan nadi seharusnya dilakukan dalam keadaan tidur atau istirahat. Pemeriksaan nadi dapat dilakukan dengan pemeriksaan denyut jantung untuk mengetahui adanya pulsus defisit yang merupakan denyut jantung yang tidak cukup kuat untuk menimbulkan denyut nadi, sehingga denyut jantung lebih tinggi daripada denyut nadi. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan kecepatan atau frekuensi nadi, misalnya dapat ditemukan takikardi yang merupakan denyut jantung lebih cepat daripada kecepatan normal, keadaan ini dapat terlihat pada keadaan, hipetermia, aktivitas tinggi, ansietas, tiroksikosi, miokarditis, gagal jantung, serta dehidrasi atau renjatan. Pada keadaan hipertemia, meningkatnya suhu 1 derajat celcius akan meningkatkan denyut nadi sebanyak 15-20 kali per menit.
Usia
Frekuensi Nadi Rata-Rata
Lahir
140
1 Bulan
130
1-6 Bulan
130
6-12 Bulan
115
1-2 Tahun
110
2-4 Tahun
105







Penilaian yang berkaitan dengan pemeriksaan nadi adalah ada atau tidaknya takikardi sinus, yang ditandai dengan adanya variasi 10-15 denyutan dari menit ke menit. Takikardi supraventikuler paroksisimal yang ditandai dengan nadi sulit dihitung karena frekuensinya sangat tinggi (lebih dari 200 kali permenit) dan kecepatan nadi konstan sepanjang serangan. Di samping takikardi, terdapat istilah bradikardi, yaitu frekuensi denyut jantung yang kurang dari normal atau denyut jantung lambat. Dalam penilaian bradikardi, terdapat bradikardi sinus dan bradikardi relatif apabila denyutan nadi lebih sedikit dibandingkan takikardi.

C.    Metode Penelitian Status Gizi Secara Langsung
Metode ini adalah metode yang cara kerjanya berhubungan/kontak langsung dengan maing-masing reponden. Tidak bisa dilakukan secara representatif, enumerator harus langsung bertemu dengan subjek/sample/ resepondem yang ingin diketahui status gizinya.
a.      Antropometri
Penilitian status gizi dengan menggunakan metode antropometri ialah proses pengukuran dimensi fisik dan komposisi tubuh untuk melihat ketidakseimbangan asupan protein dan energi (karbohidrat dan lemak). Hasil pengukuran antropometri sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, anatara lain usia, fisiologis, pola makan, dll. Salah satu keunggulan dari metode antropometri ialah dapat memberikan informasi tentang riwayat status gizi masa lalu. Kelemahan Antropometri meliputi : tidak sensitif dan spesifik mengukur suatu zat gizi, bisa dipengaruhi faktor dari luar gizi misalnya penyakit, bisa terjadi kesalahan pengukuran.
Tabel Keadaan Gizi Menurut Indeks Antropometri
Status gizi
Ambang batas baku untuk keadaan gizi berdasarkan indeks
BB/U
TB/U
BB/TB
LLA/U
LLA/TB
Gizi baik
>80%
>85%
>90%
>85%
>85%
Gizi kurang
61-80%
71-85%
81-90%
71-85%
76-85%
Gizi buruk

b.      Klinis
Metode ini biasa digunakan untuk mendeteksi kumpulan gejalan dan tanda-tanda-tanda klinis yang berhubungan dengan kekurangan atau kelebihan gizi. Metode ini biasa menggunakan 1) pendekatan riwayat medis merupakan catatan mengenai perkembangan penyakit, 2) pemeriksaan fisik merupakan melakukan pemeriksaan fisik dari kepala sampai ujung kaki untuk melihat tanda-tanda dan gejala adanya masalah gizi. 


c.       Biokimiawi
Beberapa tahapan  masalah gizi dapat diketahui dengan metode laboratorium, penyimpanan zat gizi dalam jaringan tubuh mengalami perubahan secara perlahan sesuai dengan status gizi seseorang.

d.      Biofisik
Penentuan staus gizi dengan biofisik adalah meliha dari kemampuan fungsi jaringan dan perubahan struktur. Tes kemampuan fungsi jaringan meliputi kemampuan kerja dan enerigi akspenditure serta adaptasi sikap. Tes perubahan struktur dapat dilihat secara klinis (misalnya pengerasan kuku, pertumbuhan rambut, dll) atau non klinis (misalnya radiologi). Penilaian secara biofisik dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu 1) uji radiologi, 2) tes fungsi fisik (misalnya tes adaptasi pada ruangan gelap), dan 3) sitologi (misalnya pada KEP dengan melihat noda pada epitel dari mukosa oral). Penilaian biofisik ini memerlukan biaya yang besar.

D.    Metode Penelitian Status Gizi Secara Tidak Langsung
a.      Survei Konsumsi Makanan
Survei konsumsi adalah suatu metode penelitian status gizi dengan melihat dan menghitung jumlah dan jenis makanan yang dikonsumsi oleh individu. Akan tetapi survei konsumsi juga bisa dilakukan pada tingkat rumah tangga. Tujuan dilaksanakannya survei konsumsi makanan adalah untuk mengetahui kebiasaan makan, dan gambaran tingkat kecukupan bahan makanan dan zat gizi pada tingkat kelompok, Rumah tangga, dan perorangan serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Berdasarkan jenis data yang diperoleh, pengukuran konsumsi makanan menghasilakan dua dua jenis data yaitu kualitatif (a.l frekuensi makanan, dietary history, mode telepon, dan daftar makanan), dan data kuantittif (a.l metode recall 24 jam, perkiraan makanan, penimbangan makanan, food account, metode inventaris dan pencatatan).



b.      Statistik Vital
Pengukuran status gizi dengan statistik vital adalah dengan menganalisis data beberapa statistik kesehatan seperti angka kematian berdasarkan umur, angka kesakitan dan kematian akibat penyakit tertentu, dan data lainnya yang berhubungan dengan gizi.

c.       Pengukuran Faktor Ekologi
Ekologi merupakan suatu pengetahuan yang mengkaji tentang hubungan timbal balik anatara organisasi hidup dnegan lingkungannnya atau dapat dikatakan dengan juga ekologi adalah ilmu mengenai jaringan hubungan antara zat-zat organisme unsur-unsur yang hidup dan mati dalam lingkungannya. Faktor ekologi yang berhubungan dengan malnutrisi ada enam kelompok yaitu, keadaan infeksi, konsumsi makanan, pengaruh budaya, sosial ekonomi, produksi pangan, setra kesehatan dan pendidikan.

E.     Faktor Faktor Yang Perlu Dipertimbangkan Dalam Pemilihan Metode Penelitian Status Gizi.
1.    Tujuan
Tujuan mempengaruhi jenis metode yang digunakan. Apabila yang ingin dilihat oleh peneliti adalah fisik dan kasat mata, maka diapakai metode klinis dan antropometri. Misalkan untuk meneliti hubungan anatar berat badan dengan jumlah makanan yang dikonsumsi. Makan metode penelitian status gizi langsung yang dipakai adalah antropometri dan untuk melihat jumlah makanan yang di konsumsi menggunakan metode survey konsumsi makanan tingkat individu.
2.      Unit sampel yang di ukur
Unit sampel yang diukur mengandung makna jumlah yang akan dijadikan subjek penelitian. Metode yang paling murah adalah antopometri, sehingga cocok untuk unti sampel dalam jumlah banyak (ratusan atau ribuan). Lain halnya apabila unit sampelnya sedikit (dibawah 100) metode biokomiawi cocok untuk di gunakan.



3.      Jenis informasi yang dibutuhkan
Jenis informsi yang ingin diperoleh menentukan metode yang akan dipilih karena setiap metode memberikan informasi yang berbeda. Misalkan ingin melihat status gizi berdasarkan berat badan, tinggi badan,  serta umur, metode yang tepat adalah antropometri. Sedangkan apabila informasi dari specimen darah lainnya, sebaiknya menggunakan metode biokimiawi.
4.      Tingkat reliabilitas dan akuransi yang dibutuhkan
Setiap metode penelitian memiliki reliabilitas yang berbeda-beda. Misalkan untuk penelitian penyakit gondok dengan gradenya. Penelitian ini membutuhkan tenaga medis dan paramedik yang terlatih dan terampil dan memiliki pengalaman cukup dibidangnya, dengan kata lain tidak semua orang bisa melakukan penilaian grade penyakit gondok, karena walaupun sama-sama memiliki penglihatan yang normal, tidak semua orang memiliki persepsi yang sama terhadap suatu hal. Berbeda dengan metode biokimiawi, metode ini memiliki tingkat reliabilitas dan akurasi yang sangat tinggi dibanding metode yang lain, asalkan ada tenaga, saran dan biaya.
5.      Tersedianya fasilitas dan peralatan
Berbagai jenis fasilitas dan peralatan yang dibutuhkan dalam penelitian status gizi. Beberapa fasilitas ada yang mudah didapatkan dan ada yang sulit diperoleh, sedangkan fasilitas dan peralatan antropometri relatif mudah didapat dibanding biokimia.
6.      Tenaga
Ketersediaan tenaga harus memenuhi kriteria jumlah dan mutu sesuai dengan tujuan penelitian status gizi atau pengambilan data. Jenis-jenis tenaga antara lain dokter, analisis, ahli gizi, dan tenaga lain terlatih yang disesuaikan dengan tujuan penelitian. Sebagai contoh, metode biokimiawi membutuhkan seorang analis, metode klinis membutuhkan seorang dokter, sedangkan metode antropometri tidak membutuhkan tenaga khusus. Siapapun bisa menjadi pengambil data antropometri asalkan terlatih menggunkan alat-alat antropometri.




7.      Waktu
Penelitian ataupun pengambilan data terkadang membutuhkan waktu yang singkat atau bahkan lama. Metode antropometri, klinia, biofisik cenderung membutuhkan waktu singkat karena hasil langsung bisa dicatat. Sedangkab metode biokimiawi membutuhkan waktu relatif lama karena perlu pencatatan lapangan dan pemeriksaan laboratorium.
8.      Dana
Dari segi dana, metode bikomiawi yang paling membutuhkan dana paling banyak.



















BAB VI
DASAR DASAR DIET KLINIK

A.    Makanan Biasa (MB)
Makanan ini sama dengan makanan sehari hari yang beraneka ragam, berviasi dengan bentuk, terkstur, dan aroma yang normal. Susunan makanan mengacu pada pola menu seimbang dan angka kecukupang gizi (AKG) ya dianjurkan bagi orang sehat. Makanan biasanya diberikan kepada pasien yang berdasarkan penyakitnya tidak memerlukan makanan khusus (diet). Walaupun tidak ada pantangan secara khusus, makanan sebaiknya diberikan dalam bentuk yang mudah dicerna dan tidak merangsang saluran cerna misalnya bumbu tidak terlalu banyak, tidak terlalu pedas atau asin. Contoh pasien yang mendapatkan jenis makanan biasa misalnya conjungtivits tanpa demam, penyakit kulit yang  bukan alergi low back pain, penyakit pada hidung telinga dan tenggorokan (THT) yang tidak memerlukan oprasi.
·         Tujuan dietadalah memberikan makanan sesuai kebutuhan gizi untuk mencegah dan mengurangi kerusakan jaringan tubuh
·         Syarat diet pada makanan biasa adalah : 1) energy sesuai kebutuhan normal orang dewasa sehat dalam keadaan istirahat, 2) protein 10 – 15% dari kebutuhan energy total , 3) lemak 10 – 25% dari kebutuhan energy total, 4) karbohidrat 60 – 75% dari kebutuhan energy total, 5) cukup mineral, vitamin dan kaya serat, 6) makanan tidak merangsang saluran cerna dan 7) makanan yang sehari-hari yang beraneka ragam dan bervariasi.
Bahan makanan
Berat (g)
Porsi
Beras
Daging
Telur ayam
Tempe
Kacang hijau
Sayuran campur
Buah pepaya
Gula pasir
Minyak
300
100
50
100
25
200
200
25
30
4   gls nasi
2 ptg sdg
1 btr
4 ptg sdg
2  sdm
2 gls
2 ptg sdg
2  sdm
3 sdm
·         Indikasi pemberian diberikan kepada pasien yang tidak memerlukan diet khusus yang berhubungan dengan penyakitnya. Bahan makanan sehari dapat dilihat contohnya pada table berikut :
Bahan makanan ini hanya sekedar contoh, bisa diganti dan disesuaikan dengan kebisaan makanan setempat, dari contoh bahan makanan diatas dapatlah kita lihat nilai gizi yang terkandung sebagai berikut :
Energi
Protein
Lemak
Karbohidrat
Kalisium
Besi
Vitamin A
Tiamin
Vitamin C
2146
76
59
331
622
20,8
3761
1,0
237
Kkal
g
g
g
mg
mg
RE
mg
mg








Bahan makanan tersebut diatas dapat diolah dan menjadi makanan yang akan diberikan kepada pasien terdiri dari tiga kali makanan utama ( pagi, siang, malam) dan satu kali kudapan pada pukul 10.00 WIB. Contoh menunya misalnya makan pagi dengan nasi, telur dadar, ketimun & tomat irir, bubur kacang hijau pada pukul 10.00, dilanjutkan makan siang dengan nasi, ikan bumbu acar, tempe bacem, sayur asam dan buah papaya, makan malam dengan nasi, daging semur, tahu goring, sup sayuran, dan buah pisang.
Makanan yang tidak dianjurkan
Dari semua makanan yang ada, makanan yang tidak dianjurkan untuk diet makanan biasa ini adalah makanan yang merangsang, seperti makanan yang merlemak tinggi, yang terlalu manis, terlalu berbumbu, dan minuman yang mengandung alcohol. Cara memesan diet : diet MB berikutnya kita pelajari tentang makanan lunak.

B.     Makanan Lunak (ML)
Makanan lunak adalah makanan yang memiliki tekstur yang mudah dikunyah, ditelan, dan dicerna dibandingkan dengan makanan biasa. Makanan ini cukup mengandung zat- zat gizi asalkan pasien mampu mengonsumsi makanan dalam jumlah cukup. Menurut keadaan penyakit makanan lunak dapat diberikan langsung kepada pasien atau sebagai perpindahahn dari makanan saring kemakanan biasa. Contoh pasien yang mendapatkan jenis makanan lunak misalnya :pasien dalam gangguan menelan dan pencernaan, atau post dipuasakan ( post ileus paralitik , post oprasi saluran pencernaan, tifus, pasien struk dengan hemiparese pada saraf fasialis.
·         Tujuan dietmakanan lunak adalah memberikan makanan dalam bentuk lunak yang mudah ditelan atau dicerna sesuai kebutuhan gizi dan keadaan penyakit.
·         Syarat- syarat diet makanan lunak meliputi : 1) energy, protein, dan zat gizi lain cukup, 2) makanan diberikan dalam bentuk cincang atau lunak, sesuai dengan keadaan penyakit dan kemampuan makan pasien, 3) makanan diberikan dalam porsi sedang yaitu 3 kali makan lengkap dan 2 kali selingan, 4) makanan mudah cerna, rendah serat, dan tidak mengandung bumbu yang tajam.
·         Indikasi pemberian makanan lunak ini diberikan kepada pasien sesudah oprasi tertentu, pasien dengan penyakit infeksi dengan kenaikan suhu tubuh tidak terlalu tinggi, pasien dengan kesulitan mengunyah dan menelan, serta sebagai perpindahan dan makanan saring kemakanan biasa.
Contoh bahan makanan sehari pada makanan lunak :

Bahan Makanan Sehari-Hari
Bahan makanan
Berat (g)
Ukuran Rumah Tangga (URT)
Beras
Daging
Telur ayam
Tempe
Kacang hijau
Sayuran
Buah pepaya
Gula pasir
Minyak
Susu
250
100
50
100
25
200
200
50
25
200
5 gls nasi tim
2 ptg sdg
1 btr
4 ptg sdg
2  sdm
2 gls
2 ptg sdg
5 sdm
2  sdm
1 gls

Bila sudah diaplikasikan dalam makanan, menu makanan sehari terdiri dari makan pagi dengan bubur ayam, telur ½ masak, jus tomat dan teh. Menu makan siang terdiri dari nasi tim/ bubur, pepes tenggiri, tumis tempe, bening bayam, papaya iris, makan malam terdiri dari nasi tim / bubur, bistik jerman, tahu isi kukus, sup wortel + buncus, pisang. Untuk selinggan pukul 10.00 diberikan bubur kacang hijau dan pukul 21.00 diberikan segelas susu. Khusus untuk pemberian makan bubur maka diberikan tambahan selingan pukul 16.00 puding dan susu ditambah biscuit pada pukul 20.00.
Cara memesan diet dengan menuliskan Makanan Lunak (ML) pada diet pasien untuk mempermudah kita dalam menyusun menu makan berikut ditampilkan bahan makanan yang dianjurkan dan tidak dianjurkan :
Bahan Makanan yang Dianjurkan dan Tidak Dianjurkan
Bahan makanan
Dianjurkan
Tidak dianjurkan
Sumber Karbohidrat
Beras ditim, dibubur, kentang direbus, dipure, makaroni, soun, mi, misoa direbus, roti; biskuit; tepung, sagu; tapioka; maizena, hunkwe dibubur atau dibuat puding; gula; madu
Nasi digoreng, beras ketan, ubi singkong, tales, cantel
Sumber Protein Hewani
Daging, ikan, ayam, unggas tidak berlemak direbus, dikukus, ditim, dipanggang; telur direbus, diceplok air, diorak-arik; bakso ikan, sapi, atau ayam direbus; susu; milk shake, yogurth, keju.
daging dan ayam berlemak dan berurat banyak, danging ayam, ikan dan telur digoreng; ikan banyak duri
Sumber Protein Nabati
Tempe dan tahu direbus, dikukus, ditumis, dipanggang, kacang hijau direbus; susu kedelai
Tempe, tabu, dan kacang-kacangan digoreng; kacang merah
Sayuran
Sayuran tidak banyak serat dan dimasak seperti daun bayam, kangkung, kacang panjang muda, buncis muda, oyong muda dikupas, labu siam, labu kuning, labu air, tomat, wortel.
Sayuran banyak serat seperti daun singkong, daun katuk, daun melinjo, nangka muda, keluwih, genjer, pare, krokot, rebung; sayuran yang menimbulkan gas seperti kol, sawi, lobak; sayuran mentah.
Buah-buahan
Buah segar dihaluskan tanpa kulit seperti pisang masak, pepaya, jeruk manis dan jus buah.
Buah banyak serat dan menibulkan gas seperti nanas, nangka masak, durian, buah utuh, buah kering

Bumbu-bumbu

Dalam jumlah terbatas : garam, gula, pala, kayu manis, asam, saos yomat, cuka, kecap

Cabe dan merica
Minuman
Sirop, tek dan kopi encer, jus sayuran dan jus buah, air putih masak
Minuman beralkohol dan soda seperti bir, coca cola, teh dan kopi kental, dll
Selingan
Es krim, pudding
Kue kacang, kue kenari, buah kering, kue terlalu manis dan berlemak
C.    Makanan Saring(MS)
Makanan saring adalah makanan semi padat yang mempunyai tekstur lebih halus dari pada makanan lunak sehingga lebih mudah ditelan dan dicerna. Menurut keadaan penyakit, makanan saring dapat diberikan langsung kepada pasien atau merupakan perpindahan dari  Makanan Cair Kental ke Makanan Lunak. Contoh pasien yang mendapatkan jenis makanan lunak misalnya : pasiean dengan gangguan menelan dan gangguan pencernaan atau post dipuasakan ( post ileus paralitik ) post oprasi saluran pencernaan, tifus, pasien struk dengan himiparese pada syaraf asialis.
·         Tujuan diet ini adalah memberikan makanan dalam bentuk semi padat dengan jumlah yang mendekati kebutuhan gizi pasien dalam waktu jangka pendek sebagai proses adaptasi terhadap bentuk makanan yang lebih padat.
·         Syarat diet makanan saring adalah : 1) hanya diberikan untuk jangka waktu singkat selama 1 – 3 hari, karena kurang memenuhi kebutuhan gizi, terutama energy dan tiamin, 2) rendah serat, diberikan dalam bentuk saring atau dibelender 3) diberikan dalam porsi kecil dan sering yaitu 6-8 kli sehari.
·         Indikasi pemberian makanan saring adalah pada pasien sesudah mengalami oprasi tertentu, pada pasien infeksi akut termasuk infeksi saluran cerna, serta kepada pasien dengan kesulitan mengunyah dan menelan atau sebagai perpindahan dari Makanan Cair Kental ke Makanan Lunak. Karena makanan ini kurang serat dan vitamin c maka sebaiknya  diberikan jangka waktu 1- 3 hari saja.
Contoh menu makanan saring pagi, pasien diberi bubur sumsum ½ masak susu dan jus tomat, pukul 10.00 diberikan selingan bubur kacang hijau halus, siang pasien diberikan bubur tepung beras, semur daging, tim tahu, jus papaya, dilanjutkan pudding maizena pada pukul 16.00. Makan malam diberikan bubur tepung beras, gadon daging, semur tahu halus, sari jeruk, dan seringan terakhir pukul 20.00 diberikan susu. Cara memesan diet cukup menuliskan Makanan Saring (MS).

D.    Makanan Cair (MC)
Makanan cair adalah makanan yang mempunyai konsistensi cair hingga kental. Makanan ini diberikan pada pasien yang mengalami gangguan mengunyah, menelan, dan mencerna makanan yang disebabkan oleh menurunnya kesadaran, suhu tinggi, mual dan muntah, pasca pendarahan saluran cerna, serta pra dan pasca bedah. Makanan dapat diberikan secara oral atau parenteral. Menurut konsistensi makanan, Makanan Cair terdiri atas tiga jenis, yaitu makanan cair jernih, makanan cair penuh, dan makanan cair kental.
Kita mulai dari makanan cair jernih. Contoh pasien yang mendapatkan jenis makanan lunak misalnya : pasien stroke dengan hemiparese pada syaraf fasialis, pasien dengan penurunan kesadaran yang menggunakan naso gastrik tube (NGT).

1.      Makanan Cair Jernih.
Makanan cair jernih adalah makanan yang disajikan dalam bentuk cairan jernih pada suhu ruang dengan kandungan sisa (residu) minimal dan tembus pandang bila diletakkan pada wadah bening.
Tujuan diet makanan cair jernih adalah 1) memberikan makanan dalam bentuk cair, yang memenuhi kebutuhan cairan tubuh yang mudah diserap dan hanya sedikit meninggalkan sisa, 2) mencegah dehidrasi dan menghilangkan rasa haus. Syarat diet makanan cair yaitu 1) makanan disajikan dalam bentuk cair jernih, 2) bahan makanan hanya terdiri dari sumber kerbohidrat, 3) tidak merangsang saluran cerna dan mudah diserap, 4) sangat rendah sisa, 5) diberikan hanya 1-2 hari saja, dan 6) diberikan dalam porsi kecil dan sering. Bahan makanan yang boleh diberikan antara lain teh, sari buah, sirop, air gula, kaldu jernih, serta cairan mudah cerna seperti cairan yang mengandung maltodekstrin. Makanan dapat ditambah dengan suplemen energy tinggi sisa rendah.
Contoh menu pasien pagi hari diberikan the, jam 10.00 air bubur kacang hijau, siang diberikan kaldu jernih dan air jeruk, pukul 16.00 the dan malam pasien diberikan kaldu jernih dan air jeruk. Berikutnya kita pelajari makanan cair penuh.

2.   Makanan Cair Penuh.
            Makanan cair penuh yaitu makanan berbentuk cair atau semi cair pada suhu ruang dengan kandungan serat minimal dan tidak tembus pandang. Makanan ini dapat diberikan langsung atau sebagai perpindahan dari Makanan Cair Jernih ke Makanan Cair Kental. Tujuan diet pada makanan ini adalah 1) memberikan makanan dalam bentuk cair dan setengah cair yang memenuhi kebutuhan gizi, 2) meringankan kerja saluran cerna. Syarat diet Makanan Cair Penuh adalah : 1) tidak merangsang saluran cerna, 2) bila diberikan lebih dari 3 hari harus dapat memenuhi kebutuhan energy dan protein, 3) kandungan energy minimal 1 kkal/ml, konsentrasi cairan dapat diberikan bertahap, 4) berdasarkan masalah pasien, dapat diberikan formula rendah atau bebas laktosa, formula tanpa susu dan sebagainya,, 5) untuk memenuhi kebutuhan vitamin dan mineral dapat diberikan tambahan ferosulfat, vitamin B kompleks, dan vitamin C, 6) sebaiknya osmolaritas < 400 Mosml.
            Indikasi pasien yang diberikan Makanan Cair Penuh adalah pasien yang punya masalah mengunyah, menelan, atau mencerna makanan padat, misalnya pada operasi mulut atau tenggorokan, dan/atau pada kesadaran menurun. Makanan ini dapat diberikan melalui oral, pipa, atau enteral (melalui NGT/Nado Gastrik Tube), secara bolus atau drip. Terdapat dua golongan Makanan Cair Penuh, yaitu Formula Rumah Sakit (FRS) dan Formula Komersial (FK). Kita bahas dulu FRS, terdapat 4 macam Formula Rumah Sakit yaitu 1) FRS bekerja normal, 2) FRS blender, makanan ini memerlukan tambahan makanan berserat, 3) FRS rendah laktosa, diindikasikan pada pasien yang intolerans terhadap glukosa, dan 4) FRS tanpa susu untuk pasien yang tidak tahan protein susu. Sekarang tentangn FK, terdapat 10 jenis formula komersial yaitu sebagai berikut :
Jenis Formula Komersial
No
Jenis FK
Indikasi Pemberian
1
Rendah/bebas laktosa
Tidak tahan terhadap laktosa
2
MCT (Medium Chain Triglycerida)
Malabsobsi lemak
3
Dengan BCAA (Branched Chain Amino Acid)
Sirosis hati
4
Protein tinggi
Katabolisme meningkat
5
Protein rendah
Gagal ginjal
6
Protein terhidrolisa
Alergi protein
7
Tanpa susu
Tidak tahan terhadap protein susu
8
Dengan serat
Perlu suplemen serat
9
Rendah sisa
Reseksi usus
10
Indeks glikemik rendah
Diabetes Mellitus





3.   Makanan Cair Kental.
            Makanan cair kental adalah makanan yang mempunyai konsistensi kental atau semi padat pada suhu kamar, yang tidak membutuhkan proses mengunyah dan mudah ditelan. Makanan ini dapat diberikan langsung atau perpindahan dari makanan cair penuh ke makanan saring.
            Tujuan diet makanan cair kental adalah memberikan makanan yang tidak membutuhkan proses mengunyah , mudah ditelan.
            Syarat dietmakanan cair kental yaitu 1) mudah ditelan dan tidak merangsang saluran cerna, 2) cukup energy protein, 3) diberikan bertahap menuju ke makanan lunak, 4) porsi diberikan kecil dan sering (setiap 2-3jam). Indikasi pemberian diet makanan cair kental diberikan kepada pasien yang tidak mampu mengunyah dan menelan, serta untuk mencegah aspirasi seperti penyakit yang disertai peradangan, ulkus peptikum, atau gangguan structural atau motorik pada rongga mulut. Makanan ini dapat mempertahankan keseimbangan cairan tubuh.
            Contoh menu, pagi pasien diberikan sup krim jagung dan susu, pukul 10.00 diberikan milk shake, makan siang dengan kentang pure, jus sayuran dan jus manga, pukul 15.00 diberikan lagi jus papaya, makan malam pasien diberikan pudding maizena dengan vla serta susu pada pukul 21.00.
            Cara memesan makanan dengan menuliskan jenis makanan yang dibutuhkan misalnya Makanan Cair Jernih (MCJ), Makanan Cair Penuh Oral/Enteral (MCPO/MCPE), atau Makanan Cair Kental (MCK).

4.   Diet untuk Pemeriksaan Keseimbangan Lemak.
            Diet ini digunakan untuk mengetahui pengeluaran lemak dalam feses (steatorea). Diagnosis steatorea dibuat apabila terdapat lebih dari 5 gram lemak dalam feses sehari (15 gram/3 hari). Pada diet Pemeriksaan Keseimbangan Lemak, diberikan makanan yang mengandung 100 gram lemak selama 5 hari. Pada hari ketiga sampai hari kelima dilakukan pemeriksaan kandungan lemak dalam feses.
            Bahan Makanan yang Boleh Diberikan pada diet Keseimbangan Lemak, untuk Sumber karbohidrat boleh diberikan beras dibuat nasi, bubur atau bubur saring; kentang dipure; produk olahan tepung-tepungan, seperti macaroni, roti putih, biscuit, mie, dan bihun. Sumber protein hewani meliputi daging, ikan, telur, karju, susufull cream, dan yoghurt. Sumber protein nabati meliputi tempe, tahu, kacang-kacangan. Sumber lemak meliputi margarin, mentega, minyak, krim dalam jumlah banyak. Sayuran bebas asalkan dimasak. Untuk buah-buahan, semua jenis buah boleh.
            Bahan Makanan yang Tidak Boleh Diberikan adalah Sumber protein hewani meliputi susu rendah lemak, susu krim, dan sarden.
Contoh Menu Sehari  pada Diet Pemeriksaan Keseimbangan Lemak
Pagi
Pukul 10.00
Roti isi margasin + selai
2 iris
Bubur kacang hijau
1 gelas
Telur rebus
1 butir

Susu full cream
1 gelas

Siang
Pukul 16.00
Nasi
¾ gelas
Kue bolu
1 potong
Daging bb kalio
1 potong


Telur dadar
1 butir


Perkedel tahu goreng
Sayur lodeh
1 bh bsr
½ gelas


Jeruk
1 buah


Sore
Pukul 22.00
Nasi
¾ gelas
Roti isi margarin + selai
2 iris
Ayam pgg saos mentega
1 potong
Telur dadar
1 butir
Krepik tempe
2 ptg sdg
Susu
1 gelas
Cah wortel
½ gelas


Papaya








Cara Memesan Diet dengan menuliskan Diet Pemeriksaan Keseimbangan Lemak (DPKL).

5.   Diet untuk Pemeriksaan Kolonoskopi.
            Kolonoskopi adalah prosedur diagnostik untuk mengetahui kelainan pada kolon dengan menggunakan alat endoskopi.
            Tujuan diet untuk pemeriksaan kolonoskopi adalah untuk memberikan makanan secukupnya yang meninggalkan sisa minimal dalam usus.
            Syarat-syarat diet untuk pemeriksaan kolonoskopi adalah 1) Energi dan protein sesuai dengan kebutuhan atau sedikit di atas kebutuhan basal, 2) Rendah sisa agar kolon menjadi bersih, 3) banyak minum untuk melancarkan defekasi, 4) Diberikan 2-3 hari sebelum tindakan kolonoskopo. Bahan makanan sehari untuk diet kolonoskopi seperti berikut :
Bahan Makanan Sehari untuk Diet Kolonoskopi
Bahan Makanan
Berat (g)
Tepung beras
100
Gula merah
60
Gula pasir
80
Susu bubuk rendah sisa
150
          
           Sedangkan nilai gizinya seperti Energi 1700 kkal, Lemak 21 g, Protein 38 g, dan Karbohidrat 340 g. Berikut table jadwal sehari-hari diet kolonoskopi :

Waktu
Menu
Bahan Makanan
Berat (g)
Pukul 07.00
Bubur sumsum tanpa santan
Tepung beras
30

Saus gula merah
Gula merah
20

Teh manis
Gula pasir
20

Air putih

Sekehendak

Pukul 10.00
Enternal komersial
Sustacal
50

Air putih

Sekehendak

Pukul 13.00
Bubur sumsum tanpa santan
Tepung beras
35

Saus gula merah
Gula merah
20

Teh manis
Gula pasir
20

Air putih

Sekehendak


Pukul 16.00
Enternak komersial
Sustacal
50

Air putih

Sekehendak

Pukul 18.00
Bubur sumsum tanpa santan
Tepung beras
35

Saus gula merah
Gula merah
20

Teh manis
Gula pasir
20

Air putih

Sekehendak

Pukul 20.00
Enternal komersial
Sustacal
50

Teh manis
Gula pasir
20

Air putih

Sekehendak
          
           Perlu juga diperhatikan Persiapan Pasien untuk Pemeriksaan Kolonoskopi, yang pertama 1-2 hari sebelumnya Makan bubur sumsum tanpa santan.
Selingan makanan enternal komersial yaitu 3 kali setiap kalinya diberikan 300-350 ml (1ml = 1 kkal), air gula/sirup 4 kali, setiap pemberian 200 ml, air putih 2-3 liter, makanan lain tidak diperbolehkan. Kedua bila pasien susah buang air besar, malam dapat diberikan Laxasin 2 sdm/Dulcolaz 2 tablet/Laxoberon 20 tetes. Ketiga, Malam Sebelum hari pemeriksaan Pukul 19.00 diberikan bubur sumsum (terakhir), pukul 20.00 diberikan makanan enternal komersial Obat urus-urus 30-40g garam inggris/30-40 ml Cator Oil. Sesudah pukul 20.00: Puasa, tapi boleh minum air putih atau air manis bila tidak menderita Diabetes Melitus; tidak boleh minum susu. Hari Kolonoskopi, pada pukul 05.00-06.00 dilakukan Klisma 1-2x sampai bersih atau berikan Dulcolax Supp atau YAL. Pada pukul 08.00 pasien diantar ke Ruang Prosedur Endoskopi.



DAFTAR PUSTAKA

Agakston,   Arthur, 2003. South Beach Diet. Jakarta : PT. Gramedia Utama.

Alhamda, Syukra dan Yustina Sriani, 2014.  Ilmu Kesehatan Mayarakat. Jakarta : Deepublish.

Graha,        Chairinnisa K, 2010. 100 Question and Answer Kolestrol. Jakarta : Elex Media Komputindo.

Hidayat,     Aziz. A. Azimul, 2008. Pengantar Ilmu Anak Untuk Pendidikan Kebidanan. Jakarta : Salemba Medika.

Leomitro,    Andreas, 2009. Khasiat Whole Grain. Jakarta : PT. Gramedia Utama.

Wirakusumah, Emma Pandi, 2010. Sehat Cara Al-Qur’an dan Hadis. Jakarta : Hikmah.

Mardalena, Ida. 2016. Ilmu Gizi Keperawatan Komprehensif. Jakarta : Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.



Latest
Previous
Next Post »